Tampilkan postingan dengan label East Java. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label East Java. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2011

Santai di Ketinggian, Gunung Lawu, 5 - 6 Maret 2011

Gaya Baru Malam Selatan, KA ekonomi akan membawa kami menyusuri rel panjang dari Surabaya Gubeng hingga tiba di stasiun Solo Jebres. Sebelumnya Nesa dengan baik hati mengantarkan saya dan Jamil [penyebutan Awal selanjutnya] ke Stasiun Gubeng, dan di stasiun ini saya juga sempat bertemu dengan Clara, rekan seperjalanan waktu di Semeru lalu. Kami masih merahasiakan kepergian kami ke Latimojong saat itu, entah tujuannya apa yang jelas saat itu kami masih ingin menyembunyikannya.

Menuju Solo
Tepat pukul 2 siang GBMS merangkak meninggalkan Gubeng, di kejauhan terlihat Clara masih menanti Sri Tanjung, dan Nesa mungkin sudah kembali ke rumahnya karena sore nanti akan menjemput ayahnya yang baru kembali setelah berlayar.  Gunung Lawu (3.265 mdpl) yang terletak diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi target kunjungan saya dan Jamil selanjutnya dalam rangkaian liburan awal tahun, namun kali ini saya mengajak Dendy dan Mamet untuk bergabung. Jalur yang populer bisa melewati Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu, kalau saya memilih jalur yang lebih cepat sampai, Cemoro Sewu.
Gunung Lawu
Tidak seperti biasanya kami berangkat bersama dari Jakarta, kali ini mereka berdua berangkat dengan waktu keberangkatan yang sama menggunakan Matarmaja. Saya sangat yakin pasti mereka akan telat sampai di Jebres.

Untuk pertama kalinya saya naik kereta ekonomi dalam keadaan yang tidak terlalu padat, mungkin karena bukan musim liburan. Selain itu GBMS juga tiba di Stasiun Solo Jebres tepat waktu sesuai dengan yang tercantum di tiket, jam 6 sore saya dan Jamil sampai. Jamil segera menghubungi teman kuliahnya yang kebetulan sedang berada di Solo. Tak lama menunggu akhirnya datang juga. Dila nama teman perempuan Jamil yang menjemput kami di stasiun.

Karena motor yang tersedia hanya satu, saya menjadi orang pertama yang berangkat menuju rumah Dila. Rumah yang masuk ke dalam kompleks Keraton Surakarta ini ternyata cukup jauh dari stasiun. Saya yang lama tidak mengendarai motor menjadi canggung, apalagi dengan boncengan yang agak aneh jika dilihat, tetapi alhamdulillah semua baik – baik saja walaupun saya sangat panik. Saat tiba di rumah Dila saya disambut oleh adik – adik Dila dan juga kedua orang tuanya. Dila kembali ke Stasiun untuk menjemput Jamil dan saya menunggu dengan manis sambil memperhatikan malam di kompleks Keraton yang sangat sepi.

Menata diri, membersihkan sisa peluh yang dikeluarkan sewaktu perjalanan menuju Solo sambil menunggu Jamil datang membawa makan malam. Saya lapar. 30 menit berlalu, Jamil datang dengan membawa rupa makanan yang agak aneh menurut saya, tak usah saya sebutkan karena makanan itu rupanya mudah ditemukan di jalan – jalan utama di Solo, rasanya enak. Malam ini saya dan Jamil akan beristirahat di kediaman Dila, di kompleks Keraton Surakarta yang sepi, sedangkan Dendy dan Mamet saya yakin mereka menikmati perjalanan menuju Solo di dalam Matarmaja nan tersohor itu. Selamat Malam.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Patung Buddha 4 Wajah


atap, Patung Buddha 4 Wajah
Surabaya, selain wisata kota tua yang menawan juga menawarkan wisata religi yang tak kalah menarik. Masih di hari dan tanggal yang sama, saat ini saya mengunjungi Patung Buddha 4 Wajah. Patung Buddha 4 Wajah ini telah mendapatkan penghargaan dari MURI sebagai Patung Buddha 4 Wajah Terbesar dan Tertinggi di Indonesia.

Patung Buddha 4 Wajah ini mempunyai ketinggian 36 meter termasuk dome. Patung ini dibuat dengan presisi panjang 9 meter dan lebar 9 meter dan mempunyai ketinggian keseluruhan 36 meter. Jika kita lihat monumen ini mempunyai angka yang sama, 9. Mengapa? Karena angka 9 mempunyai arti tersendiri bagi agama Buddha.

Bangunan inti yang sekaligus menjadi tempat peribadatan ini dikelilingi empat pilar berwarna hijau keemasan. Secara umum terbagi dari tiga bagian. Masing – masing, stupa, patung Buddha, dan singgasana Buddha.  

Monumen Patung Buddha 4 Wajah  ini sepintas mirip dengan yang ada di Thailand. Konon material emas 22 karat yang dibuat lapisan pada patung ini juga di datangkan langsung dari Thailand lengkap dengan tukangnya.
halaman kompleks Patung Buddha 4 Wajah
Patung Buddha 4 Wajah
atap bangunan
Patung Buddha 4 Wajah ini juga disebut Buddha Catur Muka, membawa filosofi empat kebaikan yang dimiliki Buddha. Welas asih, murah hati, adil (tidak memihak) serta meditasi, jika diartikan secara keseluruhan Buddha adalah wujud kasih sayang sesama manusia, membantu siapapun tanpa diskriminasi, setia dalam doa atau permohonan yang disampaikan dalam proses ritual.

Sementara di delapan tangan Buddha, terdapat kitab suci, air suci, senjata pertahanan, senjata melawan kejahatan, kitab suci, tasbih, gada dan cupu. Patung Buddha 4 Wajah ini juga dikelilingi taman berhias bunga dan patung gajah putih kecil serta ada pula kolam yang dihiasi bunga teratai dan ruangan meditasi. Saat ini Patung Buddha 4 Wajah ini cukup menjadi perhatian masyarakat dunia.

Selain Patung Buddha 4 Wajah yang tersohor, kita juga bisa melihat Klenteng Sanggar Agung. Klenteng yang lokasinya tepat berhadapan dengan Patung Buddha 4 Wajah merupakan bangunan utama dari tempat peribadatan terpadu umat Buddha, Tao dan Kong Hu Cu. Klenteng yang mempunyai arsitektur bangunan serupa dengan bangunan tradisional Indonesia ini memang sengaja dibuat demi membaur dengan suasana Indonesia, walaupun kesan dari negara China tidak hilang.
Buddha
altar Sanggar Agung
Altar Sanggar Agung
halaman belakang Sanggar Agung
Ruangan di klenteng ini sama seperti klenteng pada umumnya, digunakan sebagai tempat peribadatan. Uniknya lagi, yang datang ke klenteng ini tidak hanya mereka yang ingin beribadah, bisa juga turis seperti saya yang datang hanya ingin tahu dan mendalami pluralisme beragama. Di bagian belakang klenteng ini juga terdapat patung Dewi Kuan Im yang sangat besar ditemani dengan beberapa patung Dewa yang menyempurnakan kesucian Dewi Kuan Im. Ada pula patung naga raksasa yang berada tepat melindungi Dewi Kuan Im seakan keamanan dapat terjaga selamanya.
ini pa ya namanya?? lupa semacem liontin ada lampu kecil terus ada namanya
patung Naga Emas
Lilin Raksasa
Kakak Nesa menikmati semilir angin Kenjeran
Patung Naga Raksasa dan Dewi Kuan Im
Di halaman belakang klenteng ini kita juga dapat melihat laut lepas Surabaya ditemani dengan angin semilir yang menyejukkan. Anda tak perlu ragu untuk mengunjungi kedua tempat peribadatan ini, kerena baik Patung Buddha 4 Wajah ataupun Klenteng Sanggar Agung sengaja dibangun sebagai sarana ibadah sekaligus rekreasi keluarga. Itulah sebabnya mengapa kedua tempat ibadah ini dibangun di areal Pantai Kenjeran/Kenpark yang berada di jalan sokolilo lor Surabaya yang memang ditujukan sebagai taman rekreasi terpadu.

Jumat, 26 Agustus 2011

House of Sampoerna

ANGGARDA PARAMITA
[Surabaya, 3 Maret 2011] Entah mengapa saya selalu merindukan Kota Pahlawan ini. mungkin karena Surabaya merupakan kota metropolitan yang mempunyai banyak taman hijau yang tertata apik. Kemarin sore saya tiba di Surabaya setelah hampir seminggu di Sulawesi bersama dengan Nesa dan Awal. Setibanya di Bandara Juanda [bandara yang menurut saya paling tradisional, walaupun bentuknya kotak tapi interiornya Jawa Timur banget] kami segera dijamu di kediaman Nesa dengan hangat.  Oh iya saya mau bilang bahwa saya dan Awal diperbolehkan menginap untuk beberapa hari sebelum perjalanan kami lanjutkan ke Solo esok hari.

Pagi ini setelah puas istirahat semalaman di kediaman Nesa, kami akan mengunjungi House of Sampoerna. Sebagai ganti dari tidak jadi mengunjungi Penanggungan karena alasan, malas. House of Sampoerna, sebuah museum yang dikelola swasta dan gratis, museum ini juga pernah mendapat predikat museum terbaik tahun 2009. Museum yang terletak di Surabaya Lama atau kalau di Jakarta seperti Kota Tua Jakarta ini memiliki sejarah yang asik untuk disimak. Walaupun bukan perokok, rasanya tidak salah jika rasa ingin tahu tentang House of Sampoerna ini timbul.

Areal seluas 1,5 hektar ini terdiri atas beberapa bangunan. Bangunan yang besar terletak di tengah diapit oleh dua bangunan kecil di kiri dan di kanan. Bangunan yang didirikan pada tahun 1864 dan awalnya digunakan sebagai panti asuhan anak yatim piatu khusus laki – laki. Pada tahun 1932 setelah cukup sukses, Liem Seeng Tee [pendiri PT. HM Sampoerna]  membeli bangunan ini sebagai pabrik rokok Sampoerna. Sejak itu, tempat ini dikenal sebahai Pabrik Taman Sampoerna.
Bangunan Utama House of Sampoerna
Bangunan besar yang terletak di tengah yang awalnya adalah aula yang disulap menjadi gedung bioskop itu kini menjadi bangunan utama museum rokok House of Sampoerna. Bangunan bergaya art deco ini benar – benar memukau. Berbeda sekali dengan bangunan – bangunan bergaya art deco di Jakarta Kota, sangat tidak terawat. Di House of Sampoerna jangan kaget jika bagi anda yang tidak suka merokok akan mencium aroma cengkeh dan tembakau yang sangat kuat. Jujur, saya sempat mual dan pusing ketika baru saja memasuki areal gedung besar ini.

Selasa, 19 Juli 2011

Long Road to Mahameru : The Highest Point of Java Island, 14 - 18 September 2010

Dipojokkan saya duduk termenung menunggu dua teman baru, Nanunk dan Awal lalu Angga sedang sibuk mencari tukang ketoprak untuk makan siang. Saat itu udara sangat panas dan terik. Banyak sekali manusia berlalu-lalang di St. Senen. Ada yang sedang mengantre, ada yang sedang duduk dan banyak juga orang-orang muda berkelompok yang menggendong keril besar-besar. Mungkin kita satu tujuan, tapi tidak tahu juga. Kita lihat saja nanti. Tujuan saya saat itu Mahameru.
Mahameru terlihat dari jalur pendakian
Mahameru, nama sebuah puncak gunung tertinggi di Jawa Timur, masuk dalam bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mahameru sendiri adalah nama puncak dari gunung Semeru, sebuah gunung yang menjulang paling tinggi yang hanya saya bisa lihat dari Pananjakan saat berkunjung ke Bromo 5 tahun lalu. Mahameru puncak dengan ketinggian 3676 mdpl telah terpublikasi dengan sangat apik oleh para fotografer, para pembuat cerita, bahkan seorang penulis buku bisa mendeskripsikannya dengan sangat baik, 5 cm. Selain itu Dewa 19 jauh sebelumnya telah mengabadikan Mahameru melalui lagunya yang sangat cantik dan mendeskripsikan bagaimana perjalanan menuju puncak abadi para dewa tersebut.

Hari ini adalah H+4 Idul Fitri dan ini adalah pengalaman pertama saya ketika saya harus pergi dari rumah dalam waktu yang lama sesaat setelah lebaran berlangsung. Itu hal yang teraneh yang pernah saya lakukan. Pantas saja jika St. Senen begitu ramai akan manusia-manusia yang ingin kembali ke kampung halaman mereka atau yang dari kampung halaman ingin kembali ke Jakarta, mengadu nasib.

Ketoprak yang ditunggu pun datang, dengan lahap saya dan Angga menghabiskan ketoprak itu. Saat itu sudah jam 1 siang, tanda-tanda Nanunk dan Awal datang pun belum terlihat, saya putuskan untuk menunggu di mushola stasiun terdekat dan Angga tetap dipojokan stasiun saat kami datang.

Jakarta - Malang
Setelah selesai solat, Nanunk dan Awal pun datang sebelum waktu kereta diberangkatkan. Namun keputusan mereka untuk datang terlambat nampaknya sangat tepat. Karena siapa yang tidak tahu kereta ekonomi selalu telat apalagi saat lebaran sepeti ini, dimana penumpang mebludak dan pelayanan tetap standar, tidak ada peningkatan.

Setelah menunggu cukup lama KA Matarmaja jurusan Jakarta – Malang pun datang. Kondisi sudah penuh sesak. Saya yang mempunyai badan kurus saja kesulitan untuk berjalan di dalam gerbong, setidaknya untuk menaruh keril saja tidak memungkinkan dan akhirnya saya putuskan untuk turun kemudian menaiki KA Matarmaja Lebaran setelah sepakat dengan Angga, Awal dan Nanunk. 
menunggu KA Matarmaja, St. Senen
 KA. Matarmaja Lebaran sengaja disediakan PT. KAI untuk mengantisipasi membludaknya pengguna kereta. Dan kami salah satu korban. Perbedaan waktu keberangkatan KA Matarmaja Lebaran dengan KA Matarmaja regular adalah 2 jam. Waktu yang cukup sebenarnya untuk tidur. Namun karena ramai saya mengurungkan niat. Lama menunggu membuat saya yang saat itu baru kenal dengan Nanunk dan Awal memulai percakapan ringan. Jujur, awalnya saya mengira mereka berdua lebih tua dari saya, namun setelah berbicara panjang lebar ternyata mereka seumuran. Jadi tidak sungkan lagi.

Jam 4.30 KA Matarmaja Lebaran datang. Tak diduga dan tak disangka, kereta begitu sepi dari hingar bingar manusia, kami pun sampai memilih tempat duduk sesuka hati.
Gerbong Matarmaja Lebaran. Sepi.
Perlahan namun pasti KA Matarmaja Lebaran meninggalkan Jakarta, semburat orange mulai menghiasi langit dan berubah menjadi hitam. Kereta berjalan sangat perlahan. Tak ada keramaian kecuali saya dan teman – teman baru yang saling bertukar cerita. Tak sabar menunggu untuk sampai di Cirebon, akan ada satu teman lagi yang ikut bergabung bersama kami.