Senin, 01 Agustus 2011

Cikuray : Hilangnya Permadani Awan, 4 - 5 Desember 2010

Garut Dini Hari
Setelah melakukan perjalanan yang cukup dingin di dalam bis kami berempat, saya, awal, dendy dan mamet akhirnya sampai di terminal Guntur, Garut, Jawa Barat. Saat ini kami ingin mencoba mendaki Gunung Cikuray yang terkenal memiliki jalur yang terjal dan sedikit track datar tetapi memiliki pemandangan yang memikat, permadani awan. 

Sebelumnya rencana mendaki Cikuray sudah lama saya idamkan, namun baru sekarang teralisasi karena berbagai hal, seperti kunjungan ke Rinjani awal November lalu dilanjutkan dengan jadwal praktikum dan ujian di kampus.

Dini hari yang dingin di terminal Guntur mungkin karena hujan juga membasahi terminal ini, Desember. Saya melakukan pendakian [lagi] di musim hujan, dimana kebanyakan orang mengurungkan niat untuk mengunjungi daerah ketinggian dan asik menghabiskan waktu di rumah, tidur. Sesampainya di Guntur kami segera mencari masjid yang berada di dekat pasar, beristirahat sebentar sampai adzan subuh.

Adzan subuh berkumandang, menunaikan sholat subuh kemudian segera mencari logistik tambahan di pasar sekaligus mencari tahu mobil yang dimaksud Angga berwarna biru telor asin. Masuk ke dalam pasar, mencari perbekalan dan beberapa potong roti ternyata hari sudah pagi. Segera mencari sarapan untuk meredam amarah cacing lambung yang kami miliki.

Makan pagi yang cukup enak di warung padang tepat di depan masjid. Sempat bertanya kepada pemilik warung tentang kondisi cuaca di Garut yang ternyata setelah seminggu tidak hujan deras, baru tadi malam Garut diguyur hujan. Tertunduk.

Mencoba mengambil inti sari dari pembicaraan yang kira – kira begini : hujan di Garut biasanya siang hari menjelang pukul 1 siang, setelah itu akan berhenti sore hari kemudian bisa juga seharian tidak hujan dan akan hujan malam hingga pagi menjelang, nampaknya tidak ada pilihan tidak akan hujan. Saat ini saya hanya bisa berharap hujan tidak akan turun, atau kalaupun turun tidak akan banyak mengganggu aktivitas pendakian kami.
Garut Pagi
Sarapan yang kami pesan telah habis tanpa sisa, membungkus makanan untuk makan siang, dan kami kembali masuk pasar untuk mencari mobil angkot warna biru telor asin. Menuju Cilawu, Perkebunan Teh Dayeuh Manggung.
4 Jam Menuju Puncak Cikuray
Pagi ini sangat cerah, matahari tanpa malu – malu bersinar, dingin. Kota masih sepi hanya beberapa tempat terlihat keramaian, ibu – ibu berbelanja atau membeli sebungkus nasi uduk di pinggir jalan. Saya suka suasana desa berpadu dengan kota seperti ini, akur.

Tak sempat melihat jam, supir angkot membangunkan kami yang sedang terlena suasana pagi di sekitar Cilawu, kami sampai di pintu masuk Perkebunan Teh Dayeuh Manggung. Ojek kami sewa sebagai sarana utama pengantar kami menuju pemancar. Perjalanan yang cukup jauh ditambah medan yang berkelok dengan paduan perkebunan teh yang apik, sedap dipandang. Motor yang dikendarai oleh supir ojek terus meraung menembus perkebunan yang menanjak. Tangan ini tak melepas pegangan, menyeramkan kalau sampai terjatuh. Setelah kurang lebih 1 jam kami sampai di pemancar.
Pemancar
dendy, angan, awal, mamet
Pemanasan sedikit dan menentukan manajemen waktu yang menghasilkan keputusan bahwa saat jam 1 siang kami harus sudah sampai di puncak untuk menghindari hujan. Saat itu pukul 8 pagi, kami sempatkan bercanda sebelum melakukan pendakian. Saya rasa saat ini hanya kami saja yang mendaki.

8.30 pagi, kami memulai pendakian, track awal yang berupa kebun teh menggiring kami menuju pintu hutan. Saat itu saya sempat agak pusing, mungkin karena lama tidak naik gunung kemudian begitu kembali ke alam langsung disuguhi track menantang, kaget. Selain itu kami juga sempat salah jalur, seharusnya mengambil ke arah kanan tetapi kami ke kiri, untung saja saat itu banyak petani teh yang baik hati memberi tahu kami, terimakasih.
Kebun Teh
Komposisi Mamet yang paling depan, kemudian diikuti Dendy, Awal baru saya yang paling akhir. Saat ini kami hanya membawa 1 keril dan 3 daypack, untuk memudahkan di tengah jalan nanti saya akan bertukar keril dengan Awal.

Cikuray yang memiliki ketinggian 2813 mdpl memiliki hutan tropis yang rapat dan lebat. Track yang terkenal curam dan memiliki tantangan lain yaitu tidak adanya sumber air di gunung ini membuat para pecinta gunung banyak yang ingin memcoba, termasuk saya. Kalau motivasi saya bukan untuk mencoba track, tetapi untuk melihat permadani awan yang terkenal itu.
Track
Becek
Track
Awalnya nafas ini kembang kempis mengikuti maunya track Cikuray, namun setelah berjalan 30 menit kami semua sudah menemukan ritme langkah yang enak untuk mendaki. Tak ada suara, hanya sesekali kami bercanda karena kelelahan. Seperti pendakian sebelumnya, Mamet yang paling depan selalu tertidur di track. Saya yang santai dibelakang dengan Awal membicarakan mereka. Saat itu Awal untuk pertama kalinya mendaki bersama dengan Dendy dan Mamet, banyak bertanya.

Setelah 1 jam 30 menit kami mendaki, para lelaki yang ingin mendapat hiburan akhirnya dapat bernafas lega. Di track menjelang puncak bayangan kami bertemu dengan keluarga besar yang terdiri dari 1 bapak, 1 anak perempuan dan selebihnya mungkin anggota keluarganya, campur. Dilla, itu nama saat perkenalan kami yang selanjutnya kami sebut Neng Dilla. Bagai oase ditengah rapatnya hutan Cikuray kami senang tak alang kepalang. Perempuan itu terlihat manis dan sangat pemalu, lucu. Awalnya Mamet yang memang terlebih dahulu sampai agak malu untuk sekedar menyapa, karena terlihat seperti orang canggung akhirnya saya yang lebih dulu menyapa, berjabat tangan dan kemudian berkenalan singkat.

Hal lucu terjadi ketika melihat Mamet berkenalan, nampak sekali ingin berlama – lama memandang walau saat itu segera dihalau oleh Awal yang tak ingin kalah saing. Ketika itu saya hanya tersenyum semanis mungkin pada Dilla dan keluarganya. Berbincang sejenak.

Keluarga kecil itu rupanya telah mendaki sejak pagi – pagi sekali, namun karena ayah dari Dilla yang sudah tua ditambah banyak dari anggota keluarga tersebut yang baru pertama kali mendaki mereka berjalan menjadi agak lambat. Merekapun mengakui terjalnya jalur dan minimnya track mendatar di gunung ini. Menyudahi perbincangan singkat, kami akan tunggu mereka di Puncak Cikuray. Bahagia.

Dengan suasana hati yang lebih berwarna karena hadirnya Neng Dilla ditengah rapatnya hutan Cikuray, kami melanjutkan pendakian. Berjalan menyusuri track – track terjal, saya masih mencari dimana track yang banyak disebut pendaki lain sebagai track dengkul bertemu jidad, sejauh ini track tidak ada yang seperti itu yang banyak adalah track dengan pohon tiduran yang sengaja atau tidak pohon itu tetap pada posisinya.
istirahat
pohon tidur
track
jalur akar
Dendy yang daritadi terlihat diam ternyata sudah mulai merasakan hal aneh pada dengkulnya. Pertukaran keril terjadi antara saya dan Awal. Kali ini saya membawa beban yang lebih ringan. Saya mengawal Dendy dibelakang takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kami sampai di Puncak Bayangan.

Istirahat cukup lama, kami makan siang dengan nasi bungkus yang sudah kami pesan sebelumnya di Terminal Guntur. Lezat sekali. Meluruskan kaki dan besenda gurau ringan. Kabut tiba – tiba muncul membuat kami mempercepat makan siang saat itu, Puncak Cikuray yang cerah berubah gelap tertutup kabut hitam.
menjelang puncak bayangan
puncak bayangan
Kembali berkemas untuk melanjutkan pendakian. Belum sampai 5 menit kami mendaki hujan tiba – tiba turun dengan sangat deras. Terpaksa berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan. Awal yang tidak membawa jas hujan dengan terpaksa ia melanjutkan pendakian dengan baju basah, ia seperti berlari untuk segera menggapai pucak.

Kali ini Awal yang daritadi berada beriringan dengan saya dan Dendy, menjadi leader, terdepan diikuti Mamet, Dendy kemudian saya. Rupanya hujan membuat jalur ini semakin licin, ditambah tidak adanya track mendatar membuat kami agak kesulitan. Ditengah – tengah hujan deras, beberapa kali Dendy mengalami kram kaki. Saat itu jarak antara Awal yang berduet dengan Mamet cukup jauh dengan Dendy dan saya yang berada di belakangnya. Petir sesekali bersautan membuat suasana menjadi lebih mencekam. Hujan tak kunjung berhenti. Dendy memaksakan untuk terus berjalan, semakin lambat. Becek, licin sedikit terpeleset mengiringi pendakian kami menuju Puncak Cikuray.

“Puncak..” teriak Awal. Saya segera mempercepat langkah setelah diizinkan oleh Dendy untuk berjalan terlebih dahulu. Tetap menjaga jarak pandang agar tidak terlalu jauh. Tak lama berselang, jalur tanah berubah menjadi jalur batu yang licin, terdapat sebidang tanah agak luas nampaknya puncak semakin dekat. Saya mengambil jalur tengah.

Ketika menyusuri jalur batu licin yang tidak terlalu panjang terlihatlah dua anak manusia sedang tersenyum manis sekali di bawah bangunan bekas pemancar. Rupanya ini puncak. Segera menghampiri dan ikut berteduh. Dendy yang berada dibelakang saya tak lama muncul dan segera bergabung. Saat itu pukul 12.30 siang sesuai target, lebih cepat 30 menit untuk mencapai puncak yang sebelumnya kami menargetkan sampai pukul 1 siang. Segera mendirikan tenda di dalam bangunan untuk menghindari angin, ganti baju hangat kemudian tidur siang. Hujan masih saja turun, dan angin kencang tak henti berhembus, kami terlelap dalam dekapan angin siang.

***
Sore hari tiba – tiba terdengar suara gaduh di luar tenda yang cukup mengganggu sehingga kami terbangun dari tidur siang yang menyenangkan. Rupanya banyak pendaki dari Tasikmalaya yang baru saja tiba. Hujan masih membasahi Cikuray, nampak para pendaki dari Tasikmalaya itu datang satu persatu. Saat beberapa teman mereka mendirikan tenda ditanah lapang tak jauh dari bangunan yang kami tempati, saya sempat berbincang ringan dengan salah satu dari rombongan itu. Banyak dari rombongan itu terlihat kedingingan dan kelelahan. Rupanya mereka mulai mendaki 30 menit setelah kami, dan mereka mendapat hujan saat bertemu dengan keluarga Neng Dilla di bawah sana.
matahari terbenam setelah hujan 5 jam
Sampai menjelang magrib rupanya keluarga Neng Dilla tak juga sampai, esok hari akan kami tanya mengapa mereka tidak langsung mengunjungi puncak. Di saat yang sama Mamet mendadak demam, mungkin karena kelelahan. Perlahan namun pasti hujan berhenti, namun angin dingin masih saja berhembus kencang di ketinggian. Matahari yang diselimuti awan perlahan kembali keperaduan. Semburat warna terbiaskan di ujung barat bumi ini. Sayang, saat itu saya tidak membawa kamera yang mumpuni. Kamera saya dipinjam, dan saya lupa akan pergi mendaki hari ini.

Malam kelam ditemani bintang temaram kami menikmati dinginnya puncak Cikuray. Setelah membuat makan malam, kami segera membuka sesi obrolan ringan selama perjalanan maupun masalah – masalah yang sedang hits saat itu. Berbincang memang menghabiskan banyak waktu yang membuat kami lupa waktu. Malam semakin gelap, indah bintang dan angin kencang tak mau kompromi, kami kembali berdekapan hangat di dalam tenda. Terlelap.

Cikuray Tanpa Permadani Awan
Bayangan asap mengepul di pagi yang cantik ini, kalau kata Mamet itu kepulan asap pabrik, tapi saya lebih setuju itu kepulan asap dari Gunung Papandayan, entahlah. Matahari masih malu untuk menampakkan diri. Kami bersenda gurau di dinginnya pagi.
menjelang matahari terbit
Perlahan semburat kuning keemasan muncul di ufuk timur, masih dengan selimut awan yang nampaknya enggan untuk melepaskan diri. Para pendaki dari Tasikmalaya pun tak ketinggalan ikut menikmati detik – detik matahari terbit. Saya bersama teman yang lainnya hanya menikmatinya sambil menunggu kapan datangnya permadani awan yang tersohor itu.
Langit hitam perlahan menjadi biru bersih. Tak ada awan sedikitpun. Bahkan, banyak rumah penduduk yang terlihat dari puncak Cikuray ini, nampaknya kami tak akan mendapatkan permadani awan. Menghabiskan waktu di puncak dengan memasak dan tentunya menunggu keluarga Neng Dilla sampai di puncak dengan canda tawa.
matahari nampak malu
Sekitar pukul 8 pagi sekelompok pendaki yang ditunggu datang, Neng Dilla dan keluarganya sampai. Mereka nampak sangat senang bisa sampai ke puncak Cikuray, begitupun dengan kami, bahagia. Malu – malu kami menjawab setiap pertanyaan dari ayah Neng Dilla, dalam hati mengumpat ingin rasanya kami berfoto bersama dengan mereka, khususnya hanya dengan Neng Dilla. Kami masih sarapan sesi pertama.

Tak disangka, ketika kami sedang sibuk memasak sarapan sesi kedua, ayah Neng Dilla awalnya meminta tolong pada saya untuk melakukan sesi foto keluarga mereka, dan selanjutnya Allah mengabulkan umpatan hati kami, ayah dari Neng Dilla meminta kami berfoto bersama dengan keluarga besarnya. Ah, kami berebut untuk berdiri di samping Neng Dilla, dan 1.. 2.. 3.. Jepreett. Kami berfoto.
bersama keluarga neng Dilla (yang pake kupluk hitam)
Tak lama Neng Dilla dan keluarganya di puncak, setelah sesi foto keluarga mereka berpamitan untuk segera turun. Kami masih menanti sarapan sesi ke dua matang. Menunggu adalah hal yang paling saya tidak suka, ketika sarapan tak kunjung matang, saya dan Awal memutuskan untuk menaikki atap bangunan yang kami tempati. Lumayan lama tak manjat, kali ini saya memanjat bangunan tua. Di atap, jangan salahkan kami kalau kami menjadi model dadakan. Langit biru bersih dengan semburat awan tipis sebagai pengobat kekecewaan kami akibat kehilangan moment permadani awan di Cikuray. Inilah moment terbaik saya dan Awal saat di atap bangunan.
awal
angan "featured in people / human presence 2/8/11"
“Sarapan..” teriakan dari bawah sana membuyarkan jiwa model yang kami miliki. Segera turun dan sarapan dengan sarden dan nasi yang nikmat. Setelah itu kami packing ulang untuk segera mengejar keluarga Neng Dilla yang pasti belum terlalu jauh di bawah sana.
menunggu awan

kumpulan awan nun jauh di sana

we are
Perjalanan turun Mamet dan Dendy berlari sepeti ingin kebelakang, sedangkan saya dan Awal masih menanti permadani awan yang nampaknya benar – benar tidak akan muncul. Kami segera menyusul Mamet dan Dendy yang lebih dulu turun. Tak terkejar sampai di Puncak Bayangan. Ternyata dugaan kami tepat. Keluarga Neng Dilla belum sempat turun gunung. Kami foto keluarga secara bergantian. Senangnya anak muda yang dimabuk wanita. Sesi foto selesai, kami istirahat sebentar di sini. Keluarga Neng Dilla lebih turun dulu. Kami santai.

Puas istirahat, kembali Dendy dan Mamet turun lebih dahulu, saya dan Awal asik jalan santai. Di tengah jalan kami bertemu lagi dengan keluarga Neng Dilla, kemudian kami salip dan segera menghilang. Neng Dilla, kita bertemu lagi di pemancar ya..
turun gunung
perhatikan perbedaan ketinggiannya
puncak bayangan
Kabut tebal tiba – tiba menghalangi pandangan saya, tak terasa kami sudah sampai di batas antara pintu hutan dan perkebunan teh awal kami mendaki. Cuaca yang pagi tadi cerah tiba – tiba mendung. Kami segera ke pemancar untuk menghubungi tukang ojek yang kami sewa kemarin. Perjalanan turun ternyata hanya memakan waktu 2 jam. Cukup lama. Sambil menunggu kami berharap Neng Dilla cepat sampai di pemancar. Awal dan Mamet sangat bersemangat jika membicarakan Neng Dilla. Saya kembali senyum semanis mungkin.

Saat ojek yang ditunggu datang, Neng Dilla dan keluarga belum juga datang, terpaksa kami tinggal. Menuruni perkebunan teh nampaknya lebih melelahkan daripada saat naik kemarin. Walaupun dibonceng saya lebih banyak menahan nafas karena jalur yang diambil cukup terjal berbeda dengan kemarin. Teriknya matahari berselimut awan membuat udara semakin panas. Berkeringat.
keluar hutan
kebun teh :)
Sampai di pangkalan ojek, kami segera dibawa menuju mushola kecil tepat di samping gang pintu masuk perkebunan teh. Kami mandi dan beristirahat. Tak lama hujan deras pun turun. Saat itu juga Mamet dan Awal mengkhawatirkan keadaan Neng Dilla, kasihan, pasti mereka sekeluarga kehujanan. Sempat menunggu satu jam namun nampaknya hujan tak kunjung reda. Kami masih ada agenda lain, menghadiri acara pernikahan guru dari Awal sewaktu SMA dulu. Saat kami keluar dari mushola kecil itu gang sebagai pintu masuk sudah seperti air terjun. Air mengalir seperti air bah, banyak membawa batu – batu besar dalam alirannya yang lumayan mengganggu para pengendara. Tukang ojek yang menanti penumpangpun ikut serta dalam menyingkirkan bebatuan itu. Gotong royong.

Suatu saat nanti saya harus kembali ke Cikuray. Masih penasaran dengan pemadani awan yang tersohor itu. Mungkin tidak di musim hujan, kemarau.

-----
FYI :
*Bawalah air secukupnya dan jangan membuang – buang waktu di jalan, konsumsi air harus hemat :p
*Bawa kamera yang asik buat diajak kerja sama.
*Jakarta – Garut > 35.000 *Terminal Guntur – Cilawu > 3.000 *Ojek > 30.000

5 komentar:

  1. wahaha...
    Mirip bget sma kjadian aslinya...

    Kapan2 kita brangkat brempat lagi yah..Kapan2 kita brangkat brempat lagi yah..

    BalasHapus
  2. cieeee..... nanti disalamin deh sama dilla...
    wah foto eike jd ikut terbit disitu gara gara dila :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaaa.. salam ya mbak buat dilla dan keluarga :D

      Hapus
  3. kalo ada nomor hapenya dilah juga gapapa mba hehe #ngarepdotcom

    BalasHapus
  4. Masih berasa ke dengkul rasanya. Haha

    BalasHapus