Kamis, 23 Juni 2011

Mount Slamet via Guci : The Highest Point of Central Java

kawah gunung slamet
Kamis, 29 Juli 2010
Saat sedang mengajar tiba-tiba dapat SMS dari raja reptil Bandung, mengenai ajakan mendaki Ciremai. Tanpa berfikir panjang lagi saya langsung meng-iya-kan ajakannya, tentu setelah melihat jadwal klinik agar tidak bentrok. Namun tak berapa lama dan kondisi saya masih dalam kelas, raja reptil kembali SMS saya tentang rencana peralihan kunjungan dari Ciremai ke Slamet. Dan yang bikin agak risih waktu pendakiannya besok. Jadilah saya bimbang.

Rupanya setelah berdebat dengan hati dan mencari celah jadwal jaga di klinik dan jadwal praktikum di kampus yang bisa direposisi sayapun menyanggupinya. Sepulang dari mengajar saya segera pergi ke rumah Singgih buat pinjem keril dan nesting, juga minta pendapat serta iseng mengajak siapa tau dia mau ikut. Namun rupanya dia teguh pada pendiriannya selain dia juga sudah punya janji untuk mengantarkan rombongan fotografer ke Pulau Seribu sabtu besok.

Belanja, packing, kemudian pesan tiket jadilah saya berangkat ke Bandung dengan KA Argoparahiyangan jam 7 malam. Di dalam kereta saya hanya sibuk memerhatikan sekeliling dan merasakan ada yang aneh dengan jalur yang dilalui, yang belakangan saya tahu ternyata jalurnya memang memutar sehingga membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Tidur.
Menjelang tengah malam saya sampai di Bandung dan langsung dijemput oleh raja reptil mas Angga. Segera ke kosan dan kembali tidur.

Jumat, 30 Juli 2010
Pagi ini nampaknya kami kesiangan, seharusnya kami berangkat jam 8 namun kami baru kunci pintu kosan Angga jam 9. Setelah siap langsung menuju terminal Cicaheum buat naik bus jurusan Purwokerto. Bus ini melewati Cileunyi, di sini naik 2 orang temannya Angga yang berhasil membuat orientasi Ciremai berubah ke Slamet, Ijul sang ketua rombongan dan Tommy temannya Ijul.

Selama perjalanan saya hanya diam saja, mendengarkan lagu-lagu dari video yang ada di bus ini cukup menarik karena memutar lagu yang enak untuk didengar terutama saat konser Harmoni. Selebihnya membosankan. Bahkan bule yang mungkin ingin ke Jogjapun sampai mengeluh karena lamanya bis ini mencapai tujuan. Kalau menurut saya sih memang lama bukan karena dibuat lama, tetapi memang kondisinya lama bila naik bis. Untungnya bis ini cukup nyaman.

Menjelang magrib kami sampai di Terminal Purwokerto, segera mencari angkot yang ternyata jam beroperasinya sudah habis jadilah calo taksi mengerubuni kami. Awalnya dengan tarif 40.ooo kami sudah bisa sampai di Bambangan, namun entah mengapa saat kami ingin berangkat sang supir taksi tiba – tiba menawarkan harga argo yang sebesar 180.ooo atau nego 200.000. Jujur saat itu saya tidak habis pikir, mereka memainkan wisatawan seperti kami ini. Dan tanpa berfikir panjang segeralah kami mengeluarkan keril yang tadinya sudah masuk bagasi. Dasar calo.
menjahit tas ijul
terlelap di pelataran masjid
Tanpa disangka, saat itu kamilah tersangkanya. Dengan alasan yang bermacam-macam, para supir taksi yang lain menuduh kami yang macam-macam. Saya tak mau ambil pusing, segera mencari masjid untuk bermalam. Kejadian lain di sini adalah keril Ijul putus. Jadilah menjadi di keremangan terminal.

Sabtu, 31 Juli 2010
Pagi-pagi sekali dengan udara yang begitu dingin entah alarm siapa yang berbunyi bersautan membangunkan saya dari tidur. Satu per satu dari kami bangun dan bersiap untuk sholat subuh. Setelah subuh kami segera berangkat menuju Serayu dengan mini bus, tak lupa memberi sedikit makanan untuk mengganjal perut.

Entah pukul berapa saat itu yang jelas hari masih gelap dan dingin masih saja menusuk tulang kami sampai di pertigaan Serayu. Menunggu cukup lama mobil yang akan mengangkut kami menuju Pos Bambangan dan ternyata carry yang sedari tadi ada itu menunggu di nego harga. Jadilah kami naik carry tersebut. Menuju Bambangan dengan jalan yang berputar dan sedikit ngebut saya kembali terlelap.
di pos bambangan, cuaca cerah tapi jalur ditutup. aneh
Sesampainya di Bambangan, udara masih saja dingin walaupun saat itu langit terang benderang. Segera mendatangi Basacamp Bambangan dan mendapatkan kabar buruk bahwa jalur Bambangan tidak dibuka. Kacau. Kamipun hanya numpang buang hajat dan menunggu sarapan jadi. Setelah itu diputuskan untuk menerima tawaran dari ibu basecamp buat menyewa mobil menuju Guci dengan harga yang tidak murah.

Selama perjalanan saya hanya tidur, mungkin disebabkan jalanan yang bergelombang jadi seperti diayun. Cukup lama saya tertidur sampailah kami di pintu gerbang Guci. Membayar sejumlah uang dan langsung digiring menuju jalur pendakian. Sempat bingung karena kami tak lagi mengurus apa-apa yang pada akhirnya nanti ada sesuatu yang terjadi.
jalur awal sebelum pendakian via guci
Setelah berfoto kami langsung jalan mengikuti jalur berbatu yang ditata rapi, mungkin untuk para pekerja ladang dan kebun di sini.  Banyak percabangan. Tetapi kami tetap saja jalan berdasarkan insting asal kami, di jalur yang jelas. Baru 1 jam kami jalan ternyata ada yang sedang berdemo. Perut kami minta diisikan sedikit nasi goreng yang sudah kami pesan tadi di Bambangan.
jalur ini jelas, tapi menyesatkan
Selesai makan kami melanjutkan perjalanan lagi, perlahan namun pasri, jalurnya sudah mulai menanjak namun tidak curam, melewati 2 aliran sungai kemudian jalur menurun. Melewati landang di kanan kiri tak terasa sudah 2 jam kami berjalan, dan tiba-tiba kami dikejutkan karena menurut petani kebun di atas sana kami salah jalur. Jadilah kami berbalik arah menuju percabangan yang dimaksud. Untungkan semangat masih menggebu, hanya butuh waktu 30 menit untuk mencapai percabangan yang dimaksud. Saat itu sedang ada pendakian masal. Kami bermaksud untuk mengejar para pendaki yang beramai-ramai itu, namun nampaknya mereka sudah jauh di depan, kamipun jalan santai.

Track jalan setapak bekas aspal berbatu dengan hiasan di kanan dan kiri adalah tanaman perdu yang sedang berbunga. Menanjak landai. Setelah berjalan mungkin sekitar satu jam dari percabangan saat kami nyasar tadi sampailah di pos 1, yang belakangan disebut sebagai pos pinus, mungkin karena di dominasi oleh pohon pinus.
menuju pos 1
Jalur yang tadinya berbatu sudah mulai berubah menjadi jalan tanah setapak dan tidak bercabang, jalurnya landai dan menanjak dengan pasti. Panjang. Setelah lama tak menemukan tempat yang enak buat selonjoran sebelum pos 2 ada sedikit tanah agak lapang untuk kami beristirahat. Buka nesting kemudian menyeduh energen dan makan sedikit cemilan yang kami bawa. Tak lama kami beristirahat, kamipun kembali menapaki jalan setapak, dengan track yang cukup landai, hutan lebat masih saja menghiasi perjalanan kami. Tak jauh kami bertemu dengan pendaki lain yang kebetulan akan turun, setelah ngobrol dan diberi tahu tidak ada sumber air kamipun panik, namun karena pendaki itu baik jadinya mereka memberika 2 botol kecil air yang mereka bawa. Makasih.

Tak jauh dari tempat kami bertemu ternyata pos 2 sudah menanti kami. Mungkin saat itu menjelang jam 2 siang. Kami istirahat sebentar dan kembali membuka cemilan. Para rombongan yang mengikuti pendakian masal belum juga terlihat. Tak banyak tanjakan menuju pos 2 ini namun jalurnya panjang dan membuat saya mengantuk, bahkan cenderung membosankan.
pos 2
Setelah beristirahat dan mengisi tenaga kamipun melanjutkan perjalanan, tracknya masih sama di tengah hutan. Tapi kami jalan tidak cukup lama, hanya sekitar satu jam kami sudah sampai di pos 3 dengan jalur yang landai. Sesampainya di pos 3 lambung kami sudah mulai marah minta diisi sedikit makanan. Roti dengan susu coklatpun menjadi pilihan mengingat track yang akan dilalui akan panjang.
pos 3
Tepat pukul tiga kami mulai jalan perlahan lebih pelan dari yang sebelumnya. Mungkin karena faktor kelelahan atau karena memang jalurnya yang membosankan, entahlah. Jalurnya naik dan turun semuanya perlahan, jauh sekali. Kabut dan sedikit gerimis menemani kami. Ditengah-tengah perjalanan menuju pos 4 yang jauh inilah kami bertemu dengan rombongan pendakian masal, ada 2 orang anggota TNI yang drop dan ada 2 orang perempuan yang nampaknya salah satu dari mereka mengalami gagal dengkul dan seorang sweeper dari pihak panitia yang baik sekali, sepintas mirip dengan Bang Ijul teman jaman sekolah dulu. Disini kami ngobrol sebentar dan ternyata di pos 4 nanti ada sumber air. Sayapun hanya tersenyum melihat teman saya si Ijul nampak agak kesal dengan kenyataan itu. Dia sudah meng-iya-kan untuk membawa 2 botol air dari pendaki yang turun tadi.
menuju pos 4
pos 4 dibelakangnya ada sumber air
Saat itu hari sudah mulai agak gelap, entah akibat kabut atau memang matahri sudah kembali keperaduannya kami tiba di pos 4. Saya beristirahat dan yang lain ikut mengambil air untuk persediaan. Sebentar saja kami di pos 4 ini, kami tidak berempat lagi melainkan beramai-ramai dengan para peserta pendakian masal yang bertemu sebelum pos 4 ini. Perjalanan menuju pos 5 tidak terlalu terburu-buru santai tapi pasti. Jalur disini banyak terdapat pohon tumbang, tidak Cuma satu atau dua, melainkan banyak, bahkan di beberapa titik kami harus naik batang pohon itu atau jalan jongkok untuk menghindarinya. Sebentar saja kami berjalan menuju pos 5. Sekitar 30 menit kami sampai di pos edelweis. Anehnya di pos ini sama sekali tidak ada edelweis.

Di pos ini ada bangunan yang beratap seng, di dalamnya sudah ada para anggota TNI yang bersiap-siap untuk bermalam, hari sudah semakin gelap, kami yang hanya numpang duduk di sini akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju batas vegetasi. Cuaca sudah semakin buruk, angin kencang ditambah gelap mulai menyelimuti. Jalur menuju batas vegetasi naik terus, tidak selandai jalur – jalur sebelumnya. Sekitar 30 menit dengan sisa tenaga saya dan teman-teman akhirnya sampai di batas vegetasi, mencari temoat untuk mendirikan tenda, mendirikan tenda, masak makan malam kemudian tidur dengan cuaca yang sangat dingin.

Minggu, 1 Agustus 2010

Dini hari panitia pendakian massal sudah mebunyikan sirine, dan tepat di depan tenda kami mereka memberikan wejangan. Saya dan Angga masih lanjut tidur, namun entah mengapa udara yang tadinya hangat tiba-tiba menjadi sangat dingin. Tak lama para rombongan itupun melakukan pendakian ke puncak. Karena saya dan Angga sudah tidak tahan dengan dinginnya tenda sayapun memutuskan untuk ikut summit attack, dari tenda kami rombongan yang lebih dulu memperlihatkan pola senter yang di atas sana. Saya membangunkan tenda sebelah yang diisi Ijul dan Tommy kemudian minum energen dan kamipun menyusul. Terlihat jarak antara kami dengan rombongan tidak begitu jauh, namun entah mengapa tidak terkejar. Tracknya pasir dan sedikit bebatuan. Kesalahan terbesar saya adalah saya tidak memakai sepatu. Jadilah harus pintar—pintar memilih pijakan agar nantinya kaki saya tidak kapalan.
summit attack - kesiangan

semburat orange dengan awan menggantung

peserta terakhir yang mencapai puncak pagi itu
Saat semburat orange mulai muncul, kamipun belum sampai di puncak, masih di jalur, sedangkan rombongan yang lain di atas mungkin sudah berfoto ria dengan background matahari terbit. Tak lama setelahnya, saat langit sudah berubah menjadi biru, kami sampai di puncak Slamet. Angga masih jauh di belakang, dan nampaknya ia orang terakhir pagi itu.
Setelah lengkap kami berfoto, menikmati indahnya puncak Slamet di pagi hari melihat koto-kota dari atas sini dan lebatnya hutan yang kemarin kami lalui. Menyenangkan. Puas menikmati puncak kamipun segera turun. Dan lagi – lagi menjadi rombongan terakhir yang turun dari puncak menuju camp. Sesampainya di camp kami segera membuat sarapan pagi dilanjutkan dengan packing kemudian segera turun gunung. Takut kemalaman.
segitiga slamet
bebatuan slamet
kawah slamet
menuju batas vegetasi
simbol
Saat perjalanan turun di jalur seperti itu kendala saya adalah tidak bisa berlaru, hanya jalan cepat, jadilah saya paling belakang. Namun selepas pos 3 saya dan Tommy di depan, dan mendengar teriakan Ijul yang memberi kabar bahwa Angga mengalami tegang urat. Sehingga kakinya tidak bisa ditekuk. Setelah bertemu dengan Angga, saya memutuskan dengan Tommy untuk berjalan lebih dulu, takut kalau tiba-tiba sayalah korban gagal dengkul berikutnya.
turun gunung
Saya sampai di jalur awal pendakian 1,5 jam lebih awal dari Angga dan Ijul yang dibantu oleh panitia yang mirip Mas Ijul itu. Saya menunggu di basecamp Guji, sambil membuang hajat.
Entah pukul Angga dan Ijul sampai, kami kemudian ingin segera pulang, namun saat itu panitia mengajak kami untuk mandi di air hangat untuk menyegarkan badan. Awalnya saya tidak ingin ikut, namun air yang hangat itu begitu menggoda, jadilah saya gabung bersama mereka.
dipemandian air panas, guci
Selepas mandi, kami makan tempe mendoan sebagai pengganjal perut kemudian diteruskan naik mobil bak menuju Yomani., membeli ayam goreng kemudian menuju Bandung. Saya dan Angga sampai di Bandung pukul 2 malam, setelah itu langsung terlelap. Setelah menikmati tanah tertinggi di Jawa Tengah, esok saya akan pulang ke Jakarta dengan travel, karena lebih cepat. Untuk perjalanan selanjutnya, saya belum tahu akan pergi kemana.

--------------
Thanks to
*Alloh SWT
*mama dan papa yang secara baik mengizinkan anaknya pergi mendadak
*Angga yang sudah ngajak saya, Ijul dan Tommy buat semuanya
*teman-teman Gallas di Guci yang baik hati
*Singgih untuk pinjeman alat-alatnya.

kalau tidak salah ingat :
Bus Mandala Bdg - Pwt AC : 45rb
Bus GoodWill Tegal - Bdg : 45rb
Bus 3/4 Pwt - Serayu/Bobotsari : 7500
Carry serayu - Bambangan : 15rebu/orang atau 100rebu/borongan (nego)
carter mobil bambangan - Guci : 130rb - 200rb (nego)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar